refresh

refresh
jembatan barito

Sabtu, 22 Januari 2011

cha cha cha Kesdam VI/MLW

Pemberian suntikan Z-Track sangat aman


PEMBERIAN TERAPI INJEKSI INTRAMUSKULAR DENGAN TEKNIK Z-TRACK

BAB I

PENDAHULUAN


A.    Pendahuluan
Pengobatan dengan injeksi adalah prosedur invasive yang melibatkan deposisi obat melalui jarum steril yang diinsersikan ke dalam jaringan tubuh. Tekhnik aseptic harus diperhatikan karena klien beresiko infeksi bila jarum menembus kulit. Karakteristik jaringan mempengaruhi  kecepatan absorbsi obat dan awitan kerja obat. Jadi sebelum menginjeksi obat, perawat harus mengetahui volume obat yang diberikan, karakteristik obat, dan lokasi struktur anatomi di bawah tempat injeksi.
Dalam melakukan tindakan keperawatan yang telah direncanakan setiap perawat hendaknya juga memperhatikan hal-hal sebagai berikut: tindakan keperawatan harus aman bagi klien, sejalan dengan program pengobatan, didasari dengan prinsip dan pengetahuan yang digabungkan dari pendidikan dan pengetahuan sebelumnya. Salah satu tindakan keperawatan dalam pemberian obat yang sering dilakukan oleh perawat adalah tindakan penyuntikan intra muskuler. Tindakan ini bersifat invasive dan sering sekali menimbulkan berbagai komplikasi dan rasa tidak nyaman bagi pasien terutama bila dilakukan tidak sesuai dengan tehnik dan prosedur yang baik. Rasa nyeri yang berkepanjangan sangat mengganggu kenyamanan dan keamanan pada klien selama proses penyembuhan. Oleh karena itu, pengetahuan tentang metode penyuntikan yang baik dan aman sanga diperlukan oleh setiap perawat agar dalam melaksanakan tindakan tersebut tidak memberikan dampak yang negative pada klien.


B.     Maksud dan Tujuan
 Pemberian terapi intramuskuler bertujuan agar absorbsi obat lebih cepat akibat vaskularitas obat. Bahaya kerusakan jaringan lebih kecil bila obat memasuki otot dalam. Otot juga lebih sedikit sensitive pada obat yang mengiritasi atau kental. Pemberian terapi intramuskuler juga bertujuan untuk memasukkan obat dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan obat yang diberikan melalui subcutan. Namun, ada resiko obat yang diinjeksikan secara sembrono ke dalam pembuluh darah bila perawat tidak hati-hati.

C.    Definisi
1.      Pemberian obat intramuskuler adalah pemberian obat dengan cara memasukkan obat ke dalam jaringan otot.
2.      Injeksi Z-track adalah metode injeksi dengan memasukkan obat kedalam otot besar dengan menggunakan jarum dan syringe dan menghasilkan tempat penusuk berbentuk zig-zag. Metode ini khusus diberikan pada medikasi dalam pada otot untuk mencegah obat keluar kedalam jaringan subcutan dan kulit.



BAB II
TEKNIK KONVENSIONAL DAN Z-TRACK


A.    Perbedaan Teknik Konvensional dengan Z-Track
Tehnik penyuntikan intramuskuler pada dasarnya ada dua cara yaitu metode penyuntikan konvensional atau standart dan metode penyuntikan Z track. Perbedaan kedua metode ini terletak pada insersi jarum mulai dari dermis sampai ke otot berada dalam garis lurus, sedang pada metode penyuntikan intramuskuler Z track pemberian obat melalui suntikan (injeksi) ke dalam jaringan otot dengan meninggalkan jalan kecil bekas jarum yang disuntikkan berbentuk zig-zag, sehingga cairan obat tidak dapat keluar dari jaringan otot. Perbedaan ini disebabkan pada metode penyuntikan intramuskuler konvensional atau standar, kulit diregangkan terlebih dahulu sebelum disuntik, sedang pada metode intramuskuler Z track kulit yang akan disuntik ditarik kearah samping, baru setelah obat disuntikkan dan jarum suntik ditarik ke luar, kulit yang ditarik tadi kemudian dilepaskan.




B.     Keuntungan Tehnik Z-Track
Beberapa kelemahan atau komplikasi pada penyuntikan metode konvensional atau standar diantaranya adalah keluarnya darah lewat tempat suntikan ke kulit, nyeri, iritasi, dan terjadinya lesi di kulit. Kondisi ini sangat merugikan pasien karena akan menambah penderitaan pada klien dan memperlambat proses penyembuhan, serta dapat menurunkan kepercayaan yang diberikan klien kepada perawat.
Secara teori pada beberapa literature disebutkan bahwa metode penyuntikan intra muskuler Z track memiliki beberapa keuntungan diantaranya adalah mencegah bocornya obat atau refluk obat ke dalam jaringan subcutan. Pada literatur lain menyebutkan bahwa tehnik Z track disamping dapat mencegah kebocoran atau refluk obat dari tempat suntikan, juga dapat mengurangi rasa ketidak nyamanan, serta dapat mencegah terjadinya memar pada tempat penyuntikan.














BAB III
TEKNIK PEMBERIAN TERAPI

A.    Pertimbangan Pemilihan lokasi :
  1. Massa otot yang besar, ukuran dan kondisi
  2. Vaskularisasi baik
  3. Jauh dari pembuluh darah
  4. Sesuaikan dengan usia pasien

B.     Lokasi
1.      Penyuntikan pada daerah paha (vastus lateralis).
Area ini terletak antara sisi median anterior dan sisi midlateral paha. Otot vastus lateralis biasanya tebal dan tumbuh secara baik pada orang dewasa dan anak-anak. Bila melakukan injeksi pada bayi, disarankan menggunakan area ini karena pada area ini tidak terdapat serabut saraf dan pembuluh darah besar. Area injeksi disarankan pada sepertiga bagian yang tengah. Area ini ditentukan dengan cara membagi area antara trokhanter mayor sampai dengan kondila femur lateral menjadi tiga bagian lalu pilih area tengah untuk lokasi injeksi. Untuk melakukan injeksi ini pasien dapat diatur miring atau duduk.


2.      Ventrogluteal (pasien harus berbaring miring).
Area ini juga disebut area von Hochstetter. Area ini paling banyak dipilih untuk injeksi intramuskuler karena pada daerah ini tidak terdapat pembuluh darah dan saraf besar. Area ini juga jauh dari anus sehingga tidak atau kurang terkontaminasi. Dalam melakukan injeksi pada area ini, pasien dapat diatur pada posisi berbaring terlentang, tengkurap (pronasi), duduk atau berbaring ke samping. Untuk mendapatkan area ini, misalnya apabila pasien diatur miring ke samping kanan, perawat meletakkan telapak tangan pada trokhanter mayor dengan jari-jari menghadap kea rah kepala (perhatikan jangan sampai keliru dengan Krista iliaka superior). Jari tengah diletakkan pada spina iliaka anterior superior dan direntangkan menjauh membentuk suatu area berbentuk huruf V. jarum injeksi ditusukkan di tengah-tengah area ini.


3.      Dorsogluteal (pasien harus telungkup).
Dalam melakukan injeksi dorsogluteal, perawat harus teliti dan hati-hati sehingga injeksi tidak mengenai saraf skiatik dan pembuluh darah. Lokasi ini dapat digunakan pada orang dewasa dan anak-anak diatas usia 3 tahun, lokasi ini tidak boleh digunakan pada anak-anak dibawah usia 3 tahun karena pada usia kelompok ini otot dorsogluteal belum berkembang. Salah satu menentukan lokasi otot dorsogluteal adalah dengan cara membagi area gluteal menjadi kuadran-kuadran. Area gluteal tidak hanya terbatas pada bokong saja, tetapi memanjang ke arah kista iliaka. Area injeksi dipilih pada area kuadran luar atas. Area injeksi dorsogluteal dapat pula ditentukan dengan cara menarik garis bayangan dari spina iliaka posterior superior menuju throhanter besar. Injeksi dilakukan pada area lateral dan superior terhadap garis bayangan. Unyuk menetapkan area ini dengan jelas, pakaian yang menutupi bokong harus dibuka secara penuh dan pasien diatur berbaring menghadap ke bawah dalam posisi prone dengan kedua tangan di atas kedua sisi tempat tidur dan kedua kaki diputar ke dalam. Posisi ini akan membantu relaksasi otot gluteus dan membantu relaksasi pasien yang diinjeksi. Selain posisi pronasi, pasien dapat pula diatur dalam posisi miring ke samping dengan kaki yang di atas ditekuk pada pangkal paha dan lutut serta diletakkan di depan kaki bawah yang diatur lurus.

4.      Lengan atas bagian luar (deltoid).
Area ini jarang digunakan untuk injeksi intramuskuler karena memiliki resiko besar terhadap bahaya tertusuknya pembuluh darah, mengenai tulang atau serabut saraf. Cara sederhana untuk menentukan lokasi injeksi pada deltoid adalah dengan cara meletakkan dua jari secara vertical di bawah akromion, dengan jari yang atas di atas akromion. Lokasi injeksi adalah tiga jari di bawah akromion.






C.    Pendelegasian
Pemberian terapi injeksi tidak boleh didelegasikan pada personel asisten. Personel harus diinstuksikan untuk melaporkan reaksi yang tidak diinginkan atau nyeri pada tempat injeksi sesegera mungkin.


D.    Alat dan Bahan
1.      Catatan pemberian obat
2.      Obat dalam tempatnya serta cairan pelarut
3.      Spuit (ukuran bervariasi sesuai volume obat yang diberikan)
4.      Jarum sesuai dengan ukuran dewasa panjang 2,5 – 3,75 cm / 1-1,5 inci (21-23G); anak panjang 1,25 -2,5 cm/ 1 inci (25-27G)
5.      Kapas alcohol dalam tempatnya
6.      Bak injeksi
7.      Bengkok
8.      Sarung tangan sekali pakai

E.     Prosedur Kerja
  1. Memastikan program dokter dan bila lembar persetujuan diperlukan.
  2. Perkenalkan diri pada klien, termasuk nama dan jabatan atau peran.Jelaskan prosedur dan alasannya dilakukan tindakan yang akan dilakukan dengan istilah yang dapat dipahami klien.
Rasional : meminimalkan ketidaknyamanan selama injeksi. Penjelasan prosedur merupakan tekhnik distraksi yang dapat membantu mengurangi ansietas.
  1. Pastikan identitas klien.
  2. Kaji ulang untuk menetapkan apakah intervensi masih tepat untuk klien.
  3. Siapkan peralatan
  4. Cuci tangan
  5. Sesuaikan tempat tidur atau kursi pada tinggi yang tepat.
  6. Yakinkan bahwa klien nyaman dan perawat memiliki ruangan yang cukup untuk melakukan tugas/ tindakan.
  7. Yakinkan bahwa cahaya ruangan cukup untuk menjalankan tindakan.
  8. Bila klien ada di tempat tidur, turunkan pagar tempat tidur pada sisi paling dekat perawat.
  9. Berikan privasi untuk klien. Tutup pintu, gunakan tirai privasi.
  10. Ambil obat dan masukkan ke dalam spuit sesuai dengan dosis, kemudian letakkan dalam bak injeksi.
Rasional : menjamin kesterilan obat.
  1. Pertahankan duk atau pakaian untuk menutupi bagian tubuh yang tidak memerlukan pemajanan.
Rasional : mempertahankan prifasi klien.
  1. Pilih tempat injeksi yang tepat.
Rasional : area ventrogluteal lebih dipilih untuk klien lebih dari 7 bulan. Bila bayi kurang dari 7 bulan, area lateralis harus digunakan.
  1. Periksa tempat yang akan dilakukan penyuntikan (lihat lokasi penyuntikan). Palpasi tempat untuk adanya edema, massa, atau adanya nyeri tekan. Hindari area jaringan parut, memar, abrasi, atau infeksi. Palpasi otot untuk menetapkan kekerasan dan ukurannya.
Rasional : tempat injeksi harus bebas luka yang dapat mempengaruhi absorbsi obat. Massa otot yang tepat diperlukan untuk menjamin injeksi intra muskuler akurat ke dalam jaringan yang tepat.
  1. Bantu klien untuk mengambil posisi nyaman sesuai pada tempat yang dipilih untuk dilakukan injeksi.
a.       Pada daerah paha (vastus lateralis) dengan cara meminta pasien untuk berbaring terlentang dengan lutut sedikit fleksi.
b.      Pada ventrogluteal dengan cara meminta pasien miring, telungkup, atau telentang dengan lutut dan panggul pada posisi yang akan disuntik dalam keadaan fleksi.
c.       Pada dorsogluteal dengan meminta pasien untuk telungkup dengan lutut diputar ke arah dalam atau miring dengan lutut bagian atas dan pinggul fleksi dan diletakkan di depan tungkai bawah.
d.      Pada deltoid (lengan atas) dengan meminta pasien untuk duduk atau berbaring mendatar dengan lengan bawah fleksi tetapi rileks menyilang abdomen atau pangkuan.
Rasional : dengan membantu klien mengambil posisi yang mengurangi ketegangan pada otot akan meminimalkan ketidaknyamanan injeksi.

Posisi berdiri

Posisi miring


  1. Relokasi tempat dengan menggunakan garis anatomic.
Rasional : injeksi akurat memerlukan insersi pada tempat anatomic yang tepat untuk menghindari cedera saraf di bawahnya, tulang, atau pembuluh darah.
  1. Gunakan sarung tangan.
  2. Desinfeksi dengan kapas alcohol. Bersihkan pada bagian tengah tempat injeksi dan rotasikan keluar dalam arah sirkulasi seluas kira-kira 5 cm.
Rasional : kerja mekanis desinfeksi untuk menghilangkan sekresi yang mengandung microorganisme.
  1. Tempatkan penutup jarum dari jarum diantara ibu jari dan jari telunjuk pada tangan nondominan. Lepaskan penutup jarum dari spuit dengan menarik penutup tegak lurus.
Rasional : mencegah jarum menyentuh sisi penutup dan menjadi terkontaminasi.
  1. Pegang spuit diantara ibu jari dan jari tengah tangan dominant seolah seperti mengarahkan anak panah pada papan tembok. Kebanyakan perawat memegang spuit dalam telapak ke bawah untuk injeksi intramuskuler.
Rasional : injeksi halus, terarah dan cepat memerlukan manipulasi bagian spuit dengan tepat sehingga rasa dapat mengurangi nyari.
  1. Lakukan penusukan dengan jarum pada posisi tegak lurus (sudut 90 derajat) terhadap tempat injeksi.
Rasional : sudut menjamin bahwa obat mencapai massa otot.
  1. Tepat di bawah tempat injeksi, tarik kulit di bawahnya dan jaringan subcutan 2,5-3,5 cm ke bawah atau lateral terhadap tempat injeksi dengan tangan nondominan.
Rasional : hal ini mengurangi kebocoran obat ke dalam jaringan subcutan dan sehingga mengurangi nyeri.
  1. Pegang taut kulit dan dengan cepat injeksikan jarum kedalam otot pada sudut 90 derajat dengan menggunakan metode Z-track.
Rasional : jarum tetap diinsersikan selama 10 detik untuk memungkinkan obat menyebar dengan rata. Metode Z-track menciptakan jalur zig-zag pada jaringan yang mengunci jalur jarum untuk menghindari keluarnya obat melalui jaringan subcutan.
  1. Setelah jarum memasuki area, pegang bagian bawah ujung tabung spuit dengan tangan nondominan. Terus pegang kulit dengan kencang. Lepaskan tangan dominant pada ujung plunger. Hindari menggerakkan spuit.
Rasional : melakukan injeksi dengan tepat memerlukan manipulasi halus bagian spuit. Gerakan spuit dapat mengubah posisi jarum dan menyebabkan ketidaknyamanan. Ketika menggunakan metode Z-track, pertahankan pegangan kuat pada kulit dengan tangan nondominan.
  1. Setelah jarum masuk, tarik plunger untuk mengaspirasi spuit secara perlahan. Bila tidak ada darah, injeksikan obat secara perlahan dengan kecepatan 10 dtk/ml hingga habis
Jangan memberikan obat secara IM pada dosis lebih dari 5 ml pada 1 tempat injeksi
Rasional : aspirasi darah ke dalam spuit menunjukkan jarum berada pada intravena (IV). Obat intramuskuler tidak diberikan secara IV. Injeksi perlahan mengurangi nyeri dan trauma jaringan serta berpengaruh pada absorbsi obat.
  1. Setelah selesai tunggu 10 detik kemudian secara halus dan mantap tarik jarum dengan cepat sambil menempatkan kapas alcohol pada daerah penyuntikan. Letakkan jarum langsung pada bengkok.
Rasioanal : sokongan jaringan sekitar tempat injeksi meminimalkan ketidaknyamanan selama jarum ditarik.
  1. Berikan tekanan perlahan. Jangan memasase kulit.
Rasional : masase dapat merusak jaringan di bawahnya.
  1. Untuk tempat injeksi ventrogluteal dan vastus lateralis, dorong latihan kaki.
Rasioanal : meningkatkan absorbsi obat.
  1. Bantu klien untuk mengambil posisi yang nyaman setelah injeksi.
Rasional : memberi klien posisi nyaman.
  1. Bantu klien merapikan diri
  2. Ucapkan terimakasih atas kerjasama klien.
  3. Kembalikan tempat tidur pada posisi semula.
  4. Buang jarum dalam posisi tertutup dan spuitnya kedalam wadah berlabel secara tepat.
Rasional : mencegah cedera pada klien dan personel rumah sakit. Tidak menutup kembali ujung jarum dapat menyebabkan tusukan jarum dan tidak lagi dianggap praktek aman.
  1. Lepaskan sarung tangan.
  2. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
  3. Catat prosedur dan reaksi pemberian.
  4. Evaluasi kembali respon klien terhadap obat dalam 15-30 menit.
Rasional : obat parenteral diabsorbsi dan bekerja lebih cepat dibandingkan obat oral. Observasi perawatan menetapkan kemajuan kerja obat.





F.     Hal yang Harus Diperhatikan Setelah Tindakan
Komplikasi dari Z-track injeksi tidak ada selama prosedur pelaksanaannya sesuai prosedur, tetapi catat adanya bekas penusukan yang terjadi, memar, bengkak pada tempat injeksi,dan respon nyeri pada daerah injeksi. Laporkan jika terjadi tanda-tanda di atas.
BAB IV
PENUTUP

Salam Sejahtera buat kita semua Amin…………
Dari penjelasan dari bab I sampai bab III dapat disimpulkan bahwa teknik penyuntikan dengan teknik Z-Track lebih banyak memberikan keuntungan dibanding dengan penyuntikan teknik konvensional/standar. Karna selain didalam memberikan rasa nyaman terhadap pasien teknik ini juga mencegah kebocoran atau refluk obat dari tempat suntikan, juga dapat mencegah terjadinya memar pada tempat penyuntikan.
Semoga tehnik ini dapat diterapkan didalam setiap memberikan pelayanan terutama suntikan IM(Intra Musculer) ditempat tempat pelayanan kesehatan.
Terima kasih buat MY GOD-I LOVE YOU, suami tercinta yang sudah mendukung pembuatan dan menyediakan bahan—bahan karmil ini.

                                                                                                                     P E N U L I S


                                                                                                         KRISTINE HANDAYANI
                                                                                                           PNS IIC/ NIP. 030 248 549






Daftar Pustaka



Connell, Mc. A, Edwina, Administering a Z-Track I.M Injection, Nursing, January, 1999
Gray, Clinikcal Prosedur Intramuscular Injection, 2003. URL: Http://www.nursesne: work.co.uk/nurses %2office/02_06_24iminj.shtmlClinicalProsedur-iminj

Hidayat, Alimul, Aziz, Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia, 2004, EGC, Jakarta.

Intramusculer (IM) Injection Administration Faslodex IM Injection, Z-Track Technique, Astra Zeneca, 2003-2007

Lismidar H dkk. Proses Keperawatan, Edisi 2, Penerbit Universitas Indonesia, UI-Press, Jakarta, 1995

Potter, Perry, Peterson, Buku Saku Keterampilan dan Prosedur Dasar, edisi 5, 2005, EGC, Jakarta.

Nursing Procedures Made Incredibly Easy Springhouse Corp.,Giving Z-Track Injection Nursing, by ProQuest Information and Learning Company. All rights Reserved

Priharjo, Robert, Teknik Dasar Pemberian Obat Bagi Perawat, 1995, EGC, Jakarta.

Setiadi, Slamet. Aulawi, Khudazi. dan Setiyarini, Sri, Perbedaan Penyuntikan Intramuskuler Metode Z Track dengan Metode Konvensional atau Standar Terhadap Refluk Obat, Keluarnya Darah, dan Tingkat Nyeri, Jurnal Ilmu Keperawatan, Volume 1, No 1, Januari 2006

Martelli, Mary, Elizabeth, Z-Track Injection Encylopedia of Nursing and Allied Health, 2007



ASUHAN KEPERAWAATAAN PADA PX DENGAN HHF


ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.P DENGAN
DECOMP. CORDIS  FC IV DI RUANG RAWAT INAP KARDIO
RUMAH SAKIT TENTARA DR.R,HARDJANTO
BALIKPAPAN

Tempat/ tanggal pengkajian: Ruang rawat inap kardio / senin, 8 Oktober 2001.
I.         Biodata
a.         Identitas klien:
1.    Nama                                       : Tn. P
2.    Usia                                         : 54 th
3.    Jenis kelamin                           : Laki-laki
4.    Suku/ bangsa                           : flores/ Indonesia
5.    Agama                                     : Islam
6.    Status marital                          : Menikah
7.    Pendidikan/ pekerjaan             : SLTA/ Swasta
8.    Bahasa yang di gunakan         : Indonesia
9.    Alamat                                     : BALIKPAPAN

b.        Penanggung jawab klien
1.    Nama                                       : Ny. S
2.    Hubungan dengan klien          : Istri
3.    Umur                                       : 50 th
4.    Pendidikan/ pekerjaan             : SD/ -
5.    Alamat                                     : BALIKPAPAN



II.      Alasan masuk rumah sakit
a.         Alasan di rawat:
Nyeri dada sebelah kiri dan  sesak selama 1 hari ini ( 22/10/01). Klien MRS pada tgl 23-10-2001.
b.        Keluhan utama:
1.    Pada saat di kaji klien mengungkapkan sesak pada saat beristirahat dan dada terasa nyeri pada saat bernafas sudah berkurang.
2.    Klien mengatakan bahwa rasa nyeri di rasakan di dada kiri menyebar ke punggung dan tangan.
3.    Klien mengatakan bahwa saat ini rasa sesak dan nyeri dada akan datang jika ia beraktivitas secara berlebihan.
III.   Riwayat kesehatan
a.         Riwayat kesehatan sebelum sakit ini
1.    Penyakit yang pernah di alami: Hipertensi sejak + 1 th yang lalu dan DM 4 th.
2.    Penyebab penyakitnya                        : Merokok, diet yang tidak seimbang.
3.    Pernah di rawat/ tempat          : Pernah di Ruang kardio RST DR.R.HARDJANTO BALIKPAPAN
4.    Tindakan yang dilakukan        : Echo dan ECG
5.    Lamanya di rawat                   : + 20 hari
6.    Riwayat alergi obat/ makanan : -
b.        Riwayat kesehatan sekarang
Menurut Ny. S istri klien, klien mulai merasakan rasa sesak dan dadanya terasa berat sejak + 2 hari yang lalu (sebelum MRS), dan keadaan itu semakin memburuk karena klien mengatakan sesak yang di rasakan semakin hebat sejak 1 hari sebelum MRS (22-10-2001), lalu oleh keluarga dibawa ke RST DR.R.HARDJANTO BALIKPAPAN (IRD) pada malam hari sekitar pukul 23.00, lalu klien di sarankan untuk rawat inap di ruang kardio.

c.         Riwayat kesehatan keluarga
Di dalam keluarga klien menurut Tn. P tidak ada yang menderita penyakit keturunan atau penyakit menular seperti TBC, liver, jantung, kencing manis dan ginjal.

 
Genogram:








 






Keterangan:

 
                 : Laki-laki.
                 : Perempuan

 
                 : Klien
                 : Meninggal
                 : Tinggal dalam satu rumah.

IV.   Pola aktivitas hidup sehari-hari
Aktivitas sehari-hari
Sebelum MRS
Di rumah sakit
A.  Makan & minum
1.    Nutrisi
a.    Pola makan
b.    Makanan yang disukai
c.    Makanan pantangan


3 x sehari bebas.
Sayur dan buah.
-


3 x sehari menu sesuai diet.
Sayur dan buah
Rendah garam.


Aktivitas sehari-hari
Sebelum MRS
Di rumah sakit
2.    Minum
a.    Jenis minuman
b.    Banyaknya/ 24 jam
c.    Minuman kesukaan

Air putih, teh & kopi.
+ 8 gelas/ hari
teh & kopi.

Air putih
3 gelas/ 24 jam
air putih & kacang hijau
B.  Eliminasi BAB & BAK
1.    BAB
a.    Frekwensi
b.    Banyaknya
c.    Warnanya
d.   Kelainan dan bau
2.    BAK
a.    Frekwensi
b.    Banyaknya
c.    Warnanya
d.   Kelainan dan bau
3.    Keringat
a.    Banyaknya
b.    Kelainan & bau


1x/ 2 hari.
Sedikit
Kuning kecoklatan
Bau khas faeces

2x sehari
Sedikit
Kuning jernih
Khas urine

Cukupan
-


1x/ 2 hari
Sedikit
Coklat
Bau khas faeces

4 kali perhari
Cukupan
Kuning
Khas urine

Cukupan
-
C.  Istirahat tidur
1.    Istirahat
a.    Siang
2.    Tidur
a.    Siang
b.    Malam
c.    Kesulitan tidur


-

Tidak pernah tidur siang
Pukul 24.00-05.30
Rasa sesak dan nyeri dada.


Klien bed rest

13.00-14.00
22.00-05.00
-

Aktivitas sehari-hari
Sebelum MRS
Di rumah sakit
D.  Aktivitas
1.    Pekerjaan yang dilakukan tiap hari
2.    Pernah bekerja
3.    Sedang bekerja
4.    Sebagai
5.    Jumlah jam kerja dalam 24 jam

Selama menderita sakit pasien tidak bekerja
Ya, Swasta.
-
pekerja.
10 jam


Klien bed rest dengan aktivitas yang terbatas karena sesak yang di alami.

E.   Kebersihan diri
1.    Mandi
2.    Gosok gigi
3.    Cuci rambut
4.    Potong kuku
5.    Hambatan untuk melakukan HP

2x/ hari
2x/ hari
3x/ seminggu
Kalau panjang
Sesak dan nyeri dada


Seluruh kebutuhan HP terpenuhi dengan bantuan dari keluarga dan petugas.
Rasa sesak yang di alaminya
F.   Rekreasi
1.    Mendengarkan radio
2.    Menonton TV
3.    Olah raga
4.    Ke tempat hiburan

Jarang
Setiap sore bila senggang
Kadang-kadang
-

Tidak pernah
Tidak
Tidak pernah
-






V.      Psikososial
a.    Psikososial
Klien mengatakan bahwa penyakit yang di alaminya saat ini adalah akibat kebiasaan merokoknya pada waktu muda dulu. Klien tampak sering  berkomunikasi dengan teman sebangsal.
b.    Spiritual
Klien mengatakan di rumah melaksanakan sholat 5 waktu tetapi di rumah sakit tidak dilakukannya karena sesak jika beraktivitas.
VI.   Pemeriksaan fisik
a.    Keadaan Umum
Klien memakai iva cath pada tangan kanan, klien menggunakan otot bantu nafas saat respirasi. Kesadaran composmentis, GCS 4-5-6, nadi 100 x/mnt, respirasi 24 x/mnt, tensi 130/90 mmHg.
b.    Head to toe
1.    Kepala dan rambut:
Kepala simetris, rambut agak berombak, banyak yang rontok.
2.    Penglihatan :
Sklera putih, konjungitva merah muda, pupil isokor, reflek cahaya +/+, strabismus (-), klien menggunakan kaca mata.
3.    Hidung:
Bentuk normal, tidak ada sekret, tidak ada epistaksis, polip (-).
4.    Telinga:
Klien masih mampu mendengarkan dengan baik, klien tidak menggunakan alat bantu pendengaran, tidak ada perdarahan atau peradangan.
5.    Mulut dan gigi:
Tidak ada perdarahan maupun peradangan pada cavum oris, tidak ada stomatitis, ada caries gigi. Tidak ada bengkak atau kemerahan pada faring.
6.    Leher:
Tidak terdapat peningkatan tekanan vena jugular (JVP 7), tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada nyeri telan.
7.    Thorax/ fungsi pernafasan:
Pada inspeksi pengembangan dada simetris, pergerakan dada sedikit mengembang, pada perkusi terdengar suara sonor, fremitus vokal (+), pada auskultasi suara nafas vesikuler.
Suara jantung S1 dan S2 tunggal, ictus cordis bergeser ke ICS VI MCL sinistra.
8.    Abdomen:
Tidak terdapat pembesaran hepar, acites (-), bising usus (+) lemah.
9.    Ektrimitas:
Tidak terdapat oedema, klien mampu menggerakkan seluruh ekstrimitas dengan baik.
10.    Integumen :
Wajah tampak pucat, tidak ada lecet pada seluruh tubuh, terdapat luka tusukan iv cath pada tangan kiri.
VII.Pemeriksaan penunjang
-   Thorax foto: Kesimpulan: CTR 51 %.
-   ECG: Kesimpulan: PJK Old Myocard Infarct anteroseptal
-   Echo: EF 50 % (FC IV)
-   Hasil Blood Gas tgl 30/9/01: pH 7,322; PCO2 31,3; PO2 75,3; HCO3 15,8,       BE –10,2, Kalium 4,2; Natrium 142.
-   Hasil pemeriksaan lab tgl 1/10/01:
Hb 11,7; Leko 8,6; Thrombo 176; Srum Creatinin 2,61;SGOT 51



Masalah yang mungkin timbul antara lain
1.    Perubahan dalam kardiak output.
2.    Perubahan dalam perfusi jaringan.
3.    Intoleransi aktivitas.
4.    Tidak efektifnya pola pernafasan.
5.    Perubahan dalam volume cairan.
6.    Gangguan pertukaran gas.
7.    Kurangnya perawatan diri.
8.    Kurangnya pengetahuan.


ANALISA DATA
NO
DATA
MASALAH
ETIOLOGI
1.
S:

O:
Klien mengungkapkan sesak saat ber-aktivitas..
-   Nadi 100 x/mnt.
-   Respirasi 24 x/mnt.
-   Hasil thorax foto: CTR 51 %.
-   Hasil Echo: EF 51 %
 Penurunan kardiak output
(resiko)
Kegagalan jantung dalam melakukan pemompaan mekanik
2.
S:




O:
-   Klien mengungkapkan segala ke- butuhan dibantu oleh petugas dan keluarga.
-   Klien mengungkapkan bila ber- aktivitas timbul rasa sesak.
-   Klien bed rest.
-   ADL dilakukan diatas tempat tidur.
Defisit self care
Ketidak simbangan antara kebutuhan dan suplai O2
3.
S:

O:
-   Klien mengungkapkan kakinya tidak bengkak saat ini.
-   Tidak terdapat oedem pada ekstrimitas.
-   Natrium 142, Kalium 4,62.
-   Intake cairan 3 gls/ 24 jam.
-   Produksi urine cukupan.
-   Klien mendapatkan obat lasix.
Resiko terjadinya gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit (excess)
Peningkatan SVR di daerah perifer

Pengembalian cairan ke jantung menurun

Retensi cairan oleh jaringan

Oedem

PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.    Resiko terjadinya Penurunan kardiak output berhubungan dengan kegagalan jantung dalam melakukan pemompaan.
2.    Resiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kegagalan jantung melakukan pemompaan.
3.    Defisit self care berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2 yang ditandai dengan klien mengungkapkan segala kebutuhan dibantu oleh petugas dan keluarga, klien mengungkapkan bila beraktivitas rasa sesak bertambah, dada terasa berat, klien bed rest.

RENCANA DAN PELAKSANAAN
TGL
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN
INTERVENSI
IMPLEMENTASI
EVALUASI
8/10/01
Resiko terjadinya Penurunan kardiak output berhubungan dengan kegagalan jantung dalam melakukan pemompaan.
Tidak terjadi penurunan kardiak output selama dalam perawatan, dengan kriteria:
-   Klien mengungkapkan sesak berkurang/ tidak sesak saat beraktivitas.
-   Respirasi dalam batas normal 20 x/mnt.
-   Nadi < 100 x/mnt.
-   Tensi dalam batas normal.
-   Wajah tidak pucat, sianosis.
1.  Jelaskan pada klien tentang pen-tingnya istirahat jika dada terasa berat atau sesak atau pusing.

2.  Anjurkan pada pasien untuk beristirahat dalam posisi ½ duduk.
3.  Kolaborasi dalam pemberian obat digitalis.
4.  Observasi KU pasien, TTV dan keluhan klien.
1.  Menjelaskan pada klien bahwa istirahat jika terasa sesak akan mengurangi kerja jantung yang berlebihan.
2.  Menata bantal tinggi agar klien dapat istirahat setengah duduk.

3.  Memberikan obat pagi 1 tablet ISDN 5 mg.
4.  Mengamati KU pasien, menghitung frekwensi pernafas- an, mengukur tekanan darah, menanyakan keluhan klien tentang rasa sesak.
Tanggal 10/10/01
Klien pulang:
S: -
O: pasien tidak pucat, nadi 96 x/mnt, tensi 130/90 mmHg, respirasi 20 x/mnt.
A: Masalah keperawatan tidak terjadi.
P: Rencana perawatan di hentikan.

TGL
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN
INTERVENSI
IMPLEMENTASI
EVALUASI
8/10/01
Resiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit (excess) berhubungan dengan kegagalan jantung melakukan pemompaan
Tidak terjadi peningkatan retensi cairan dan elektrolit yang berlebihan selama dalam perawatan dengan kriteria:
-   Klien mengungkapan tubuh tidak ada yang bengkak.
-   Oedem (-).
-   Natrium dan Kalium da-lam batas normal.
-   Produksi urine dalam batas normal.
1.  Jelaskan pada klien tentang pen-tinnya pembatasan minum dan diet rendah garam
.
2.  Berikan diet TKTPRG.



3.  Kolaborasi dalam pemberian diuretika: Furosemid.

4.  Observasi TTV, keluhan, keadaan umum dan oedem.
1.  Menjelaskan pada klien dan keluarga agar minum sesuai dengan instruksi dokter dan me-ngurangi makanan yang asin.
2.  Menyajikan makanan dan meng- anjurkan klien untuk menghabis kan makanan yang telah disedia-kan.
3.  Memberikan obat Furosemid 1 tablet pada pagi hari sesudah makan.
4.  Melihat penampilan umum klien, mengukur tensi, nadi dan suhu, menanyakan keluhan klien.
Tanggal 10/10/01
Klien pulang,
S: pasien mengungkap kan pagi sudah kencing.
O: Tidak ada oedem.
A: masalah keperawatan tidak terjadi.
P: Rencana perawatan di hentikan.

TGL
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN
INTERVENSI
IMPLEMENTASI
EVALUASI
8/01/01
Defisit self care ber- hubungan dengan ke- tidakseimbangan antara suplai dan kebutuha O2 yang ditandai dengan klien mengungkapkan se-gala kebutuhan dibantu oleh petugas dan keluarga klien mengungkapkan bi-la beraktivitas rasa sesak bertambah, dada terasa berat, klien bed rest.
Klien mampu melakukan aktivitas secara bebas se-telah mendapat perawatan 2 x 24 jam dengan kriteria:
-   Klien mengungkapkan sesak berkurang saat melakukan aktivitas.
-   Klien mampu melaku-kan aktivitas secara mandiri. 
-   Klien mampu meme nuhi kebutuhan dengan bantuan yang minimal.
1.  Jelaskan pada klien tentang pe-nyebab dari aktivitas yang ter-batas.
2.  Anjurkan pada klien untuk me-lakukan aktivitas secara ber- tahap.
3.  Bantu klien dalam melakukan aktivitas.
4.  Observasi TTV sebelum dan sesudah melakukan aktivitas.
1.  Menjelaskan pada klien pe- ningkatan aktivitas dapat mem-perhebat rasa sesak.
2.  Menganjurkan pada klien agar tidak melakukan aktivitas yang berat terlebih dahulu.
3.  Membantu memenuhi kebutuh- an klien.
4.  Melakukan pengukuran tekanan darah, nadi dan respirasi se- belum dan sesudah melakukan aktivitas.
Tanggal 10/10/01
Klien pulang
S: Pasien mengungkap kan sudah beraktivitas cukup tanpa ada sesak.
O: pasien nampak berjalan di dalam ruangan.
A: Masalah teratasi.
P: Rencana perawatan di hentikan.


CATATAN PERKEMBANGAN
TGL
NO DP
SOAPIE
9/10/01
I













II












III
S:
O:



A:
P:
I:

E:




S:
O:


A:
P:
I:


E:



S:
O:

A:
P:
Klien mengungkap sesak berkurang saat beraktivitas
-   Pernafasan 20 x/mnt.
-   Pola nafas normal.
-   KU baik.
-   Pasien tidak nampak pucat.
Masalah teratasi sebagian.
Rencana perawatan dilanjutkan.
-   Mengobservasi KU, TTV dan keluhan klien.
-   Mengobservasi produksi urine.
Jam 19.30
-   Klien mengungkapkan tidak sesak lagi, pernafasan 20 x/mnt, produksi urine cukupan.
-   Tensi 130/80 mmHg, nadi 92 x/mnt.

-   Ny. S mengatakan kaki Tn. P Tidak bengkak selam di RS.
-   Oedem (-).
-   Intake cairan 2 gls.
-   Urine sedikit.
Masalah tidak terjadi.
Rencana perawatan dilanjutkan.
-   Menganjurkan klien untuk mengurangi konsumsi garam.
-   Menghitung balance cairan.
-   Mengobservasi adanya oedem dan TTV.
Jam 19.30
-   Tidak ada oedem, pasien menghabiskan makan yang di hidang kan dengan diet rendah garam, produksi urine + 450 cc.

-   Klien mengatakan sudah bisa melakukan mandi di belakang.
-   Kebutuhan klien masih ada yang dibantu oleh keluarga dan petugas.
Masalah teratasi.
Rencana dihentikan.

Penyuluhan yang di berikan pada saat pasien pulang:
1.    Lakukan aktivitas secukupnya dan beristirahat jika terasa sesak atau nyeri
2.    Minum obat secara teratur.
3.    Kurangi konsumsi garam dan minuman.
4.    Kontrol dokter secara teratur.
5.    Bila sesak atau nyeri tidak berkurang dengan istirahat segera bawa ke rumah sakit.

TGL
NO DP
SOAPIE
3/10/01
I












II










III
S:
O:



A:
P:
I:

E:



S:
O:


A:
P:
I:


E:

S:
O:
A:
P:
I:
E:
Klien mengungkapkan masih terasa sesak.
-   Pernafasan 30 x/mnt.
-   Pola nafas cepat dan dangkal.
-   Menggunakan otot bantu pernafasan.
-   Klien masih menggunakan O2 nasal 3 lt/mnt.
Masalah belum teratasi.
Rencana perawatan dilanjutkan.
-   Mengatur posisi setengah duduk.
-   Mengobservasi TTV dan keluhan klien.
Jam 13.30
-   Klien mengungkapkan sesak, pernafasan 28 x/mnt, cepat dan dangkal.

-   Tn. Nmengungkapkan kaki masih bengkak.
-   Oedem (+).
-   Intake cairan 3 gls.
-   Urine sedikit.
Masalah belum teratasi.
Rencana perawatan dilanjutkan.
-   Menganjurkan klien untuk mengurangi konsumsi garam.
-   Menghitung balance cairan.
-   Mengobservasi oedem dan TTV.
-   Jam 13.30 kaki dan tangan masih oedem.

-    
-   Kebutuhan klien masih dibantu oleh keluarga dan petugas.
Masalah belum teratasi.
Rencana dilanjutkan.
-   Membantu memenuhi kebutuhan klien.
Jam 13.30 klien belum mampu melakukan aktivitas secara mandiri.

TGL
NO DP
SOAPIE
4/10/01
I












II










III
S:
O:



A:
P:
I:

E:



S:
O:


A:
P:
I:


E:

S:
O:
A:
P:
I:
E:
Klien mengungkapkan masih terasa sesak.
-   Pernafasan 32 x/mnt.
-   Pola nafas cepat dan dangkal.
-   Menggunakan otot bantu pernafasan.
-   Klien masih menggunakan O2 nasal 3 lt/mnt.
Masalah belum teratasi.
Rencana perawatan dilanjutkan.
-   Mengatur posisi setengah duduk.
-   Mengobservasi TTV dan keluhan klien.
Jam 13.30
-   Klien mengungkapkan sesak, pernafasan 26 x/mnt, cepat dan dangkal.

-   Ny. I mengatakan kaki Tn. N masih bengkak.
-   Oedem (+).
-   Intake cairan 3 gls.
-   Urine sedikit.
Masalah belum teratasi.
Rencana perawatan dilanjutkan.
-   Menganjurkan klien untuk mengurangi konsumsi garam.
-   Menghitung balance cairan.
-   Mengobservasi oedem dan TTV.
-   Jam 13.30 kaki dan tangan masih oedem.

-    
-   Kebutuhan klien masih dibantu oleh keluarga dan petugas.
Masalah belum teratasi.
Rencana dilanjutkan.
-   Membantu memenuhi kebutuhan klien.
Jam 13.30 klien belum mampu melakukan aktivitas secara mandiri.

DAFTAR KOMPETENSI

Nama               : AANG
NIM                : 019930010-B
Ruangan          : Kardio
No.
Tgl
Kompetensi
1.
8-10-‘01
-   Melakukan perekaman EKG.
2.
9-10-‘01
-   Memasang infus
3.
10-10-‘01
-   Treadmill.
4.
11-10-‘01
-   Observasi Echocardiografi
5.
12-10-‘01
-   Membaca hasil EKG.





BALIKPAPAN, 17 -10- 2001
Pembimbing Ruangan kardio


     MARULI PASKA SIRINGO RINGO